Survei: 42 Persen Penonton Nikmati Video via Internet

Survei: 42 Persen Penonton Nikmati Video via Internet

1391

mobile videoJakarta, Selular.ID – Pengguna internet terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan hasil riset lembaga international Emarketer, diproyeksikan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia sekitar 102,8 juta jiwa di tahun 2016 dan akan mengalami peningkatan sekitar 123 juta jiwa di tahun 2018.

Sejalan dengan pengguna internet yang terus meningkat, hal itu juga disebut akan mendongkrak layanan Over-The Top (OTT) di Indonesia. Merebaknya penyedia layanan OTT, berimbas pada banyaknya pilihan pengguna, misalnya dalam menikmati layanan video ataupun musik secara streaming.

Mengacu pada laporan Review 2016 dan Outlook 2017 Industri Telematika Indonesia yang dikeluarkan lembaga riset Sharing Vision, dalam soal menonton video, misalnya, berdasarkan hasil riset tersebut sebagian besar responden menjawab menonton video atau film melalui internet.

“Yang mengejutkan soal menonton film. 42% responden dalam jawaban terbukanya menyatakan menonton video atau film melalui internet baik situs gratis atau berbayar, 30% membeli DVD atau menonton tv kabel, dan tinggal 28% yang datang ke bioskop,” kata Dimitri Mahayana di sela-sela “Sharing Vision: Online Business & OTT From War to Synergy” di Hotel Century Park, Jakarta, Rabu (1/12/2016).

Tidak bisa diragukan bahwa di satu sisi OTT manfaat bagi pelanggan telekomunikasi, namun di sisi lainnya keberadaan OTT juga bisa mengancam industri telekomunikasi serta industri lainnya.

Baca Juga:  Ramaikan Layanan Streaming, HOOQ Sesuaikan Pengguna Indonesia

Nah terkait dengan itu, dalam laporan Sharing Vision bertema ‘Digital Lifestyle & eChannel’ yang dilakukan Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, memberikan rekomendasi utama terkait kepentingan industri telematika nasional tahun depan, salah satunya operator selular harus bersinergi dengan para OTT dengan dimediasi pemerintah lewat regulasi sehingga tercipta keseimbangan.

Dalam hal ini, salah satu caranya adalah membuat paket bundle data dengan harga tetap untuk akses OTT. Mekanisme ini sudah dilakukan beberapa operator, misalnya Indosat dengan Spotify serta XL dengan Yonder.

“Cara lainnya adalah operator menjual data ke pengiklan melalui OTT, dan OTT kemudian diwajibkan menumpang infrastruktur operator. Bentuk sinergi lainnya bisa dibahas asal ada dibangun komunikasi antara OTT, operator, dan pemerintah,” kata Dimitri Mahayana, Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision.

Ruang komunikasi ini dinilai penting karena selama ini, regulasi pemerintah terhadap operator telekomunikasi sangat banyak. Mulai dari biaya lisensi, BHP telekomunikasi, BHP pita spektrum, PPN, PPh, USO, tarif interkoneksi, layanan pelanggan, dan banyak lagi.

Di sisi lain, kata Dimitri, pemain OTT tak diikat seketat hal tersebut. Mereka tak harus membayar lisensi, perizinan, tidak harus bayar pajak (bahkan banyak yang mangkir), termasuk tak memberi layanan optimal pelanggan, sehingga bea operasional lebih ringan.

URL: http://selular.id/MokYtE