Sepak Terjang Omoco di Indonesia (Interview Eksklusif)

Sepak Terjang Omoco di Indonesia (Interview Eksklusif)

936

Karun-Kapil
Jakarta, Selular.ID – Akhir tahun 2015, industri telekomunikasi dihebohkan dengan proyek balon terbang milik Google. Pemancar frekuensi telekomunikasi berupa balon udara itu mulai diuji di Indonesia pertengahan tahun 2016 dengan cara disebar di sejumlah titik area nusantara. Proyek bernama Google Project Loon itu dimaksudkan agar bisa memberi akses komunikasi kepada penduduk yang tinggal di pedalaman yang sampai sekarang belum tersentuh jaringan operator selular.

Projek yang digagas oleh Google bersama tiga operator nasional terbesar (Telkomsel, Indosat, XL) itu menjadi topik hangat di kalangan prnggiat teknologi dalam negeri. Mereka mempertanyakan keberpihakan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika RI memberi izin kepada perusahaan asing sementara jauh sebelum ada Project Loon, Indonesia sudah punya solusi yang sama, tapi sampai saat itu belum diberi izin resmi.

Perangkat bernama Open BTS digagas oleh Onno W Purbo, praktisi telekomunikasi dalam negeri, yang sudah mengkampanyekan open-base transceiver station miliknya sejak lima tahun terakhir, namun hingga akhir 2015 belum juga mendapat izin frekuensi untuk uji coba perangkat secara masif.

Tidak mau dianggap memihak Google, bersamaan dengan uji coba Project Loon, akhirnya Menteri Kominfo Rudiantara mengeluarkan payung hukum untuk Open BTS. Pemerintah resmi mengeluarkan Peraturan Menteri mengenai uji coba teknologi telekomunikasi, informatika, dan penyiaran.

Peraturan Menteri yang tertuang dalam Permen nomor 5 tahun 2016 itu termasuk mengatur di dalamnya mengenai Open BTS. Permen itu dikeluarkan untuk memberikan ruang bagi siapapun yang ingin melakukan uji coba teknologi di tiga bidang, yaitu telekomunikasi, internet, dan penyiaran, termasuk salah satunya Open BTS. Open BTS merupakan ukuran mini (downsizing) dari BTS reguler.

Keberadaan Permen itu disambut hangat, tidak hanya oleh penggiat Open BTS dalam negeri, tapi juga perusahaan asing yang sejak lama “mengincar” pedalaman Indonesia Timur, salah satunya perusahaan asal India bernama Omoco.

Tepat pada November 2016, Omoco resmi hadir di Indonesia. Omoco menyediakan solusi teknologi jaringan yang mampu menjangkau wilayah terpencil nusantara.

Guna mengetahui sepak terjang Omoco di Indonesia, berikut kutipan interview Selular bersama Karun Kapil selaku Director Business Development, SEA & Oceania, Omoco.

Apa latar belakang Omoco?

Omoco adalah teknologi yang menyediakan koneksi ke area terpencil dan masyarakat yang belum terkoneksi secara global. Omoco adalah solusi paling sederhana yang dimungkinkan untuk membuat jaringan selular hanya dalam waktu beberapa jam saja. Omoco mampu memberi energi ke perseorangan atau suatu masyarakat di suatu lokasi. Orang awam pun bisa membangun jaringan mereka sendiri dengan cepat.

Omoco merupakan anak usaha dari perusahaan India, Vihaan Networks Ltd (VNL), yang berbasis di New Delhi. Semua produk Omoco juga dirakit dan dirancang oleh VNL. Induk usaha kami punya tim engineering (teknisi) ribuan orang yang sudah berpengalaman menyebarkan Omoco di wilayah-wilayah terpencil di seluruh dunia. Kami telah hadir di lebih 20 negara termasuk Amerika Latin, Afrika, India, Asia termasuk Indonesia. Kami menyebarkan teknologi hijau terbesar di India.

Bagaimana cara kerja perangkat Omoco?

Green technology di sini maksudnya adalah contohnya Indonesia yang terdiri dari 17.700 pulau dengan ribuan area blankspot (tanpa koneksi). Sementara operator konvensional tidak bisa mencapai area tersebut karena banyak tantangan untuk membangun infrastruktur di lokasi tersebut. Pemeliharaan ekosistem akan membutuhkan listrik tidak tersedia, transportasi ke area tidak ada, logistik tidak ada, orang yang bisa kompeten untuk memelihara, dan koneksi untuk transmisi, khususnya di Indonesia yang terdiri dari kepulauan dan koneksi menggunakan satelit. Padahal satelit adalah komunikasi paling mahal. Jadi untuk membangun ekosistem itu sangat gemuk budget.

Di situ kenapa Omoco hadir. Dengan solusi Omoco, konsumsi energi rendah, menggunakan sumber energi matahari (solar power). Itulah kenapa green, karena 100% solar.

Produk Omoco sangat kompak, dengan teknologi software kami, konsumen juga tidak perlu orang ahli untuk instalasi dan pemeliharaan, karena siapa saja (orang awam) bisa melakukannya. Cukup taruh perangkat Omoco di suatu tempat, sambungkan ke power supply, dan Omoco bisa beroperasi dalam beberapa jam. Jadi pengguna hemat pengeluaran untuk instalasi dan perawatan peralatan.

Dan Anda tidak perlu mengirim teknisi ahli ke lapangan untuk melakukannya. Orang setempat bisa. Karena tidak ada yang harus dilakukan di site. Hanya taruh di suatu lokasi, colok ke IC power, selesai. Karena Omoco free configurate, plug & play system.

Semuanya dikendalikan dan dikelola secara jarak jauh. Terhubung ke cloud: dipusatkan, dimonitoring, dikendalikan, konfigurasi, bisa dilakukan secara remote. Operasional dan pemeliharaan juga bisa dilakukan dari jarak jauh. Jadi pengguna hemat dalam hal instalasi, beberapa jam instalasi saja, solar power, dan pemeriksaan peralatan.

Sangat aman diletakkan di ruang terbuka berkat sertifikat IP65. Jadi tidak butuh kabin/ruang atau selter. Juga tidak butuh generator diesel, hemat biaya bahan bakar. Karena tidak butuh bahan bakar di site.

Tranmisi bandwidth satelit juga dioptimisasi sedemikian rupa. Seperti yang saya katakan, tranmisi bandwidth satelit mengambil porsi biaya paling tinggi. Jadi dengan Omoco, bandwidth satelit juga hemat biaya sampai dengan 70 persen dari sistem transmisi konvensional.

Mengadopsi sitem operator-friendly, Omoco bisa terhubung ke jaringan operator telekomunikasi, atau operator VoIP, operator V-Sat. Sistem Omoco sangat fleksibel, karena bisa terkoneksi ke fiber network, koneksi satelit, dan terrestrial microwave transmission (transmisi melalui atmosfer bumi/lapisan udara).

Tentu. Produk kami hadir dengan bahasa setempat misalnya Bahasa Indonesia, dan teknis pemasangan Omoco adalah free configurated system. Tidak butuh konfigurasi apapun di site. Ketika dipasang, power on, terhubung ke satelit, sudah selesai. Semua free conf dan di-manage dari cloud.

Bagaimana performa Omoco selama ini?

Di India, kami sudah menyebarkan 2.199 site dengan green technology 100% solar power, di wilayah-wilayah Left Wing Extremist. Sejumlah wilayah yang sangat ekstrem, sangat sulit dicapai, tidak ada jalan, tidak ada transportasi seperti rel kereta, tidak ada media koneksi apapun, kami harus pakai helicopter untuk ke sana. Berkat Omoco, sekarang sudah ada pos keamanan di sana, semua senang karena sudah bisa terkoneksi.

Kami bersandar pada fakta bahwa secara global, masih ada 25% orang belum terkoneksi sama sekali, 1,5 miliar orang belum terkoneksi. Artinya, layanan komunikasi mendasar belum ada. Layanan seperti panggilan telepon untuk berkomunikasi dengan orang lain belum tersedia. Maka dari itu target kami adalah menyediakan layanan basic ke unserved and underserved people (masyarakat yang belum terjamah), dan belum terkoneksi. Di negara mana saja.

Apa target Omoco?

Karena kami percaya, komunikasi sangat fundamental sekarang ini. Karena tanpanya, contohnya tanpa adanya sambungan telepon, mereka terisolasi dari banyak hal seperti edukasi, pengobatan, penangangan darurat medis, pertanian, semuanya susah.

Ketika sudah ada ‘sambungan’, masyarakat bisa mendapat e-health, menelepon ambulance, konsultasi ke dokter, berkomunikasi ke RS, agar bisa mendapat pertolongan pertama, dan lain-lain.

(Dalam menawarkan Omoco) Kami mengkampanyekan e-health, e-education, e-school (sekolah digital). Karena lebih banyak informasi di internet daripada buku. Yak an? Mereka bisa belajar dari Youtube, Google, dan banyak lagi. Bahkan guru-guru bisa mendapat banyak gagasan baru untuk mengajar ketika mereka sudah terkoneksi. Kalau tidak, mereka akan terbatas pada buku.

Baca Juga:  Infrastruktur Komunikasi Tekan Resiko Kerja di Industri Pertambangan

Juga ada remote lecture (kuliah jarak jauh dengan metode teleconference) untuk masyarakat setempat. Itu e-education, juga ada e-farming, agrikultur, petani bisa berkomunikasi ke pasar, mengetahui harga jual hasil panen, mereka bisa mempelajari teknik baru bercocok tanam.

Dan mereka bisa e-banking. Layanan e-banking dan mobile banking adalah layanan penting yang hanya bisa tersedia jika sudah ada sambungan. E-banking menggunakan internet. Tapi terkadang sambungan internet tidak bagus,

Ketika kita punya layanan selular dan WiFi, mobile banking akan bisa berkembang. Karena mobile banking berbasis USSD, sejenis SMS melalui jaringan operator. Hanya dengan USSD, bank bisa mengirim pesan broadcast ke nasabah melalui sambungan telepon. Transfer uang, cek saldo, dll, hanya melalui kirim SMS. Hal ini sudah diimplementasikan di India secara luas, dan khusus ditujukan untuk masyarakat di rural area.

Jadi tidak perlu ada kantor cabang bank di area tersebut, asalkan nasabah tersambung ke jaringan operator, maka kita bisa lakukan kegiatan banking melalui SMS.

Faktanya, di setiap peningkatan infrastruktur ICT, akan terjadi pertumbuhan ekonomi suatu negara, di negara mana saja. Setiap terjadi kenaikan 10 persen pada penetrasi internet, berarti 1-2 pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara.

Di Indonesia, 70% penduduk tinggal di pelosok. Omoco adalah solusi untuk menaikkan tingkat ekonomi desa tersebut. Sampai Anda menaikkan tingkat perekonomian desa, Anda tidak bisa mendapat keseluruhan target PDB negara. Sangat penting untuk menghubungkan tiap-tiap orang di Indonesia. Bukan hanya kota-kota utama di setiap pulau. Tapi Anda harus memasuki pelosok. Sulawesi, Papua, Maluku, Kalimantan, semua Indonesia Timur.

Berdasarkan statistik ITU (indikator database telekomunikasi dunia) terdapat 70 persen populasi Indonesia berada di pedalaman. Itu berarti lebih dari 100 juta orang Indonesia tinggal di pelosok. Itulah target kami.

Apa misi utama Omoco?

Omoco bukan hanya menyediakan konektivitas, tapi juga keterjangkauan, dan pengembangan keahlian. Itu adalah tiga poin utama target Omoco. Bukan hanya membangun site, tapi memberi wawasan, peningkatan taraf hidup, dan keahlian kepada penduduk di pelosok.

Orang yang menaruh Omoco di wilayahnya, dia juga yang akan memelihara perangkat tersebut. Contohnya, karena Omoco mengambil sumber daya matahari sebagai energi, maka panel solar power harus dibersihkan selang beberapa lama. Bahkan keamanan juga bisa dilakukan oleh penduduk yang tinggal dekat dengan site. Perangkat bisa didekatkan ke salah satu rumah warga, kepala desa misalnya, untuk memudahkan pemeliharaan. Dia bisa dibayar (untuk melakukannya).

Omoco bisa memberikan wawasan, menambah keahlian, dan menciptakan mata pencaharian, di level grass roots (level dasar). Karena dia yang memelihara, dia akan dibayar.

Serta pengusaha. Ketika sudah ada sambungan operator selular misalnya, warga bisa berjualan SIM card, pulsa, handphone, atau kebutuhan komunikasi lainnya. Jadi bisa ada entrepreneur lokal baru. Di desa bukan lagi hanya bercocok tanam. Jadi ada mata pencaharian baru berkat tersedianya koneksi tadi.

Berapa varian produk yang tersedia?

Omoco mendukung jaringan GSM dan Edge (untuk data). Pengguna bisa melakukan panggilan telepon, SMS, dan internet. Sangat efisien untuk para warga desa untuk melakukan browsing basic, whatsapp. Bisa menjadi alat untuk “meningkatkan taraf hidup” di pedesaan.

Omoco memiliki tiga varian produk, yakni Omoco One, Omoco Two, dan Omoco R. Perbedaan mereka ada di spesifikasi teknis, yakni kapasitas dan power.

Sebenarnya tidak ada batasan berapa banyak jumlah perangkat yang terkoneksi atau berapa banyak orang yang bisa menggunakan. Semua orang bisa melihat jaringan Omoco di handphone meraka. Tapi berdasar teknis standard 3GPP (3rd Generation Partnership Project), maka kapasitas mereka berbeda.

Omoco One : up to 500 user, radius 3-4 KM, harga sekitar Rp 95 juta
Omoco Two : up to 1000 user, radius 3-4 KM, harga sekitar Rp 110 juta
Omoco R : up to 1000 user, radius 4-5 KM, harga sekitar Rp 130 juta

Wilayah mana yang menjadi fokus Omoco?

Omoco resmi hadir di Indonesia pada November 2016. Tapi kami sudah ada di kepulauan nusantara selama tiga tahun. Di India, VNL sudah berdiri sejak 30-40 tahun sejak 1980. Omoco sendiri adalah brand paling baru dari VNL. Kami sudah deploy sejumlah Omoco di Indonesia, yakni di Papua dan Sulawesi. Sekitar 50 site sudah kami sebar di sini.

Kami bisa menyebarkan Omoco di mana saja. Tergantung customer dan kebutuhan mereka, daerah mana saja bisa kami sebar. Tapi memang Indonesia Timur menjadi fokus kami. Karena mayoritas penduduk di sana tidak terkoneksi.

Secara global, Omoco baru memasuki pasar Amerika Latin (Peru, Bolivia, Meksiko), Afrika (Rwanda, Ghana, Nigeria) dan Asia Tenggara. Selain Indonesia, Omoco hadir di Nepal, Bhutan, dan Mynamar.

Bagaimana posisi Omoco dengan para pesaing?

Kami dirancang oleh VNL. Sepengetahuan kami, tidak ada penyedia layanan lain yang seperti Omoco, yang memenuhi standar 3GPP system (Standar GSM). Jadi kami tidak ada rival. Jika memang ada, kami yakin mereka tidak memenuhi standar tadi.

Siapa customer Omoco di Indonesia yang sudah deploy?

Operator selular. Saya tidak bisa menyebut nama customer.

Apa target Omoco di Indonesia?

Dalam dua tahun kami menargetkan menjangkau area-paling-tidak-terkoneksi di Indonesia. Lebih dari 7 ribu desa masih belum tersentuh layanan dasar telekomunikasi. Jadi target kami adalah untuk menjangkau 7 ribu desa tadi dalam dua tahun (terhitung sejak Desember 2016)

Sistem Omoco bisa disebar dengan cepat, maka dari itu kami positif dengan target kami. Berbeda dengan sistem konvensional yang memerlukan waktu lama untuk pengembangan dan implementasi. Site Omoco hanya butuh kurang dari satu hari. Jadi wajar bila 7 ribu desa bisa dilakukan dalam 2 tahun.

Kami butuh dukungan pemerintah untuk bisa menjangkau 7 ribu desa tadi. Mendukung insiatif kami untuk menyediakan layanan basic telekomunikasi. Skill development, rural employment, dan akan mengembangkan e-government.

Apa saja fitur yang diusung Omoco?

Di Omoco, customer bisa membuat dan menyampaikan pengumuman kepada penduduk setempat. Fitur itu adalah bagian dari solusi kami. Jika ada kebijakan baru atau pemberitahuan umum, pesannya bisa disampaikan langsung ke pedalaman. Misalnya terjadi bencana alam, kita bisa cepat menyampaikan peringatan dini. Fitur Public Announcement ini sangat bermanfaat untuk bencana alam.

Untuk saat ini, warga di pelosok tidak butuh handphone seharga Rp 1 juta, cukup dengan handphone seharga Rp200.000 mereka senang, asalkan bisa membuat panggilan telepon dan SMS. Saya yakin, ketika kebutuhan dasar itu sudah terpenuhi, maka tiga tahun lagi Indonesia bisa mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyat. Saat mereka sudah bisa menggunakan handphone, memanfaatkan internet, mendapat layanan-layanan terintegrasi. Mereka tidak butuh 4G LTE sekarang. Empat tahun lagi mungkin Anda bisa gelar jaringan 4G LTE di sana.

URL: http://selular.id/FWtR0a